Athba.net | Wanita dan anak-anak suriah yang hidup di bawah tanah. Perang, selalu menghasilkan kesengsaraan terutama bagi mereka yang secara fisik tak berdaya untuk membela diri terutama bagi wanita dan anak-anak. Jika sebagian orang berlari meninggalkan negara suriah, negara kelahiran mereka untuk mencari kehidupan yang lebih baik, tapi tidak untuk sebagian wanita dan anak-anak ini. Mereka terjebak dalam situasi perang yang sangat menghancurkan. Berikut beberapa foto yang di lansir dari laman haazy.com kehidupan para ibu dan anak-anaknya yang terjadi pada perang suriah saat ini, mereka bersembunyi di gua-gua buatan untuk menghindari ledakan bom di atas kepala mereka. Foto hasil jepretan fotographer Askhavi Khalil (Khalil Ashawi) mengunjungi bagian selatan Suriah, dan melihat kehidupan anak-anak lokal, yang dengan ibu mereka terpaksa bersembunyi di tempat penampungan bawah tanah.
Tampilkan postingan dengan label orang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label orang. Tampilkan semua postingan
Senin, 04 Januari 2016
Selasa, 15 Desember 2015
21.12
Language Ibrani
Athba.net | Jika biasanya seorang ayah membuatkan anak-anaknya rumah pohon di halaman belakang untuk tempat bermain, tetapi di padang gurun yang tak berpohon di Tenggara Utah apa yang harus di lakukan? Namun seorang Albert Christensen mempunyai alternatif satu-satunya adalah membuat sebuah gua untuk tempat tinggalnya. Albert Christensen adalah seorang Ayah yang berkemauan sangat keras, Christensen kemudian mulai mengerjakan melobangi tebing batu pasir di dekat jalur US Highway 191. Dia terus melakukan pengeboran dan memperluas gua selama 12 tahun hingga mempunyai ukuran cukup besar untuk ditempatinya dan istrinya pada tahun 1952. gua seluas 1700 meter persegi dilengkapi dengan 14 kamar, disusun di sekitar pilar-pilar raksasa, perapian dengan cerobong asap setinggi 22 meter dan bak mandi yang di bangun di dalam batu. tapi sayang, Albert meninggal ketika ia sedang membangun tangga setinggi 40 meter. Tangga yang bertujuan untuk mencapai ke atas batu, di mana istrinya akan membuat taman di atas batu. Setelah kematian suaminya, Gladys terus mengembangkan properti, membuka sebuah toko dan memberikan tur bagi setiap pengunjung rumah nya hingga dia meninggal pada tahun 1974.
Hari ini, rumah keluarga Christensen menyambut wisatawan yang melewati sepanjang jalur US Highway 191 dengan tulisan besar yang di cat putih pada tebing "Hole N' The Rock". Patung wajah Franklin D. Roosevelt di atas rumahnya juga dibuat oleh Albert. Kebanyakan perabot di sini masih asli dari keluarga Christensen, lukisan Alberta dan koleksi boneka milik gladys" dan juga, dua boneka kuda dan keledai milik albert dibiarkan saja sebagai peringatan. banyak alat-alat yang digunakan untuk membuat rumah ini juga masih tersimpan dengan baik. Kuburan Albert dan Gladys' terletak di ceruk yang dapat dicapai dengan berjalan kaki dari pintu masuk.
baca juga: Gua terdalam di dunia
Pada tahun 2000 Hole N' The Rock dibeli oleh Erik dan Wyndee Hansen dari hub davis, yaitu anak dari Gladys'. Mereka telah menambahkan sebuah pusat perbelanjaan, kebun binatang, kolam, kaktus raksasa terbuat dari bola bowling dan kamar kecil 2 lantai.
via: amusingplanet
Sabtu, 14 November 2015
23.46
Language Ibrani
Athba.net | Jumlah tunawisma di Hawaii telah meningkat dalam beberapa tahun terakhir, mencapai 487 orang per 100.000 penduduk, atau angka tertinggi per kapita di seluruh negeri, di atas New York dan Nevada, menurut statistik federal. Sejak 2010, jumlah itu tetap naik bahkan saat tingkat tunawisma nasional menurun akibat pemulihan ekonomi.
Peningkatan tersebut, didorong selama bertahun-tahun oleh tingginya biaya hidup di kepulauan tersebut, rendahnya upah dan lahan yang terbatas, memunculkan gambaran orang-orang yang tidur di sepanjang pantai yang dikenal sebagai surga tropis itu.
Pemerintah setempat telah mencoba menyelesaikan masalah tersebut. Mereka menawarkan layanan-layanan tunawisma, melarang orang duduk dan berbaring di pinggiran jalan Waikiki dan mengusulkan kontainer pengiriman sebagai perumahan sementara. Deklarasi situasi darurat tunawisma bulan Oktober oleh Gubernur David Ige menggarisbawahi keseriusan krisis tersebut:
Baca juga: ada pagoda di myanmar
Meski ada tempat penampungan dan program bantuan untuk para tunawisma, namun jumlahnya masih kurang. Sekitar 550 tempat tidur disediakan setiap malam di Oahu, di mana sekitar 4.900 dari 7.620 tunawisma berada, menurut para penyedia layanan.
Diperkirakan di hawaii memerlukan 27.000 unit rumah sewa yang terjangkau pada 2020, namun para legislator hanya menyediakan uang untuk 800 unit tahun ini. menurut perkiraan pemerintah negara bagian Perawatan perumahan publik yang ada saat ini dapat menelan biaya US$800 juta dalam 10 tahun mendatang.
Di seluruh negara bagian, 10.000 orang menunggu lima tahun atau lebih untuk mendapatkan perumahan publik yang dikelola pemerintah, dan daftar tunggu untuk bantuan sewa di perumahan swasta sangat panjang dan daftar itu ditutup selama sekitar 10 tahun.

Populasi keluarga tunawisma membludak hingga 46 persen dari 2014 ke 2015, menurut Scott Morishige, koordinator negara bagian untuk masalah tunawisma. Ia mengatakan perubahan-perubahan dalam kebijakan perumahan publik dan layanan kesehatan mental berkontribusi pada peningkatan tersebut. Sebuah survei dari penyedia layanan bulan Agustus lalu mengenai perkemahan menemukan bahwa 42 persen dari hampir 300 orang di situ adalah keluarga. Pemerintah kota mencoba menciptakan zona aman sementara tahun 2006 dimana para tunawisma dapat berkemah secara legal, tapi keluhan berdatangan sehingga taman yang diperuntukkan sebagai zona itu ditutup setiap malam. Banyak dari tunawisma yang pindah ke garasi-garasi hotel dan jalur pejalan kaki dekat Pantai Waikiki.
Baca juga: museum paling berkilau
Lalu pemerintah kota melarang orang duduk dan berbaring di jalur pejalan kaki, langkah yang didukung oleh Hyatt Regency, Hilton Worldwide dan resor-resor besar lainnya, yang mendatangkan sebagian besar dari pendapatan wisata tahunan Waikiki yang mencapai $6,8 miliar, atau hampir setengah dari pengeluaran pengunjung di Hawaii. Honolulu menghabiskan $15.000 per minggu untuk membongkar kemah-kemah itu. Selama pembersihan, para keluarga kehilangan barang-barang mereka seperti kayu yang digunakan untuk membangun rumah, meubel dan pakaian. Beberapa mengajukan gugatan atas penggerebakan tersebut.
Baca jugs: biskuit busuk termahal
Para penyedia layanan mengatakan 40 persen dari warga tunawisma Hawaii bekerja setidaknya paruh waktu, 30 persen memerlukan bantuan perumahan dan 30 persen menghadapi masalah kesehatan mental atau penyalahgunaan narkoba yang membuat mereka tidak dapat mempertahankan rumah. Para pejabat Honolulu telah menyisihkan setidaknya $16,8 juta untuk layanan dan apartemen untuk warga tunawisma tahun 2015, termasuk rencana untuk membangun unit-unit tempat tinggal dari kontainer pengapalan untuk sementara menampung warga di Pulau Sand dan pesisir Waianae.
Para pejabat kota juga memberi dukungan setidaknya $32 juta dalam bentuk obligasi untuk mendanai perumahan lain untuk tunawisma.
Baca juga: ada pagoda di myanmar
Meski ada tempat penampungan dan program bantuan untuk para tunawisma, namun jumlahnya masih kurang. Sekitar 550 tempat tidur disediakan setiap malam di Oahu, di mana sekitar 4.900 dari 7.620 tunawisma berada, menurut para penyedia layanan.
Diperkirakan di hawaii memerlukan 27.000 unit rumah sewa yang terjangkau pada 2020, namun para legislator hanya menyediakan uang untuk 800 unit tahun ini. menurut perkiraan pemerintah negara bagian Perawatan perumahan publik yang ada saat ini dapat menelan biaya US$800 juta dalam 10 tahun mendatang.
Di seluruh negara bagian, 10.000 orang menunggu lima tahun atau lebih untuk mendapatkan perumahan publik yang dikelola pemerintah, dan daftar tunggu untuk bantuan sewa di perumahan swasta sangat panjang dan daftar itu ditutup selama sekitar 10 tahun.

Populasi keluarga tunawisma membludak hingga 46 persen dari 2014 ke 2015, menurut Scott Morishige, koordinator negara bagian untuk masalah tunawisma. Ia mengatakan perubahan-perubahan dalam kebijakan perumahan publik dan layanan kesehatan mental berkontribusi pada peningkatan tersebut. Sebuah survei dari penyedia layanan bulan Agustus lalu mengenai perkemahan menemukan bahwa 42 persen dari hampir 300 orang di situ adalah keluarga. Pemerintah kota mencoba menciptakan zona aman sementara tahun 2006 dimana para tunawisma dapat berkemah secara legal, tapi keluhan berdatangan sehingga taman yang diperuntukkan sebagai zona itu ditutup setiap malam. Banyak dari tunawisma yang pindah ke garasi-garasi hotel dan jalur pejalan kaki dekat Pantai Waikiki.
Baca juga: museum paling berkilau
Lalu pemerintah kota melarang orang duduk dan berbaring di jalur pejalan kaki, langkah yang didukung oleh Hyatt Regency, Hilton Worldwide dan resor-resor besar lainnya, yang mendatangkan sebagian besar dari pendapatan wisata tahunan Waikiki yang mencapai $6,8 miliar, atau hampir setengah dari pengeluaran pengunjung di Hawaii. Honolulu menghabiskan $15.000 per minggu untuk membongkar kemah-kemah itu. Selama pembersihan, para keluarga kehilangan barang-barang mereka seperti kayu yang digunakan untuk membangun rumah, meubel dan pakaian. Beberapa mengajukan gugatan atas penggerebakan tersebut.
Baca jugs: biskuit busuk termahal
Para penyedia layanan mengatakan 40 persen dari warga tunawisma Hawaii bekerja setidaknya paruh waktu, 30 persen memerlukan bantuan perumahan dan 30 persen menghadapi masalah kesehatan mental atau penyalahgunaan narkoba yang membuat mereka tidak dapat mempertahankan rumah. Para pejabat Honolulu telah menyisihkan setidaknya $16,8 juta untuk layanan dan apartemen untuk warga tunawisma tahun 2015, termasuk rencana untuk membangun unit-unit tempat tinggal dari kontainer pengapalan untuk sementara menampung warga di Pulau Sand dan pesisir Waianae.
Para pejabat kota juga memberi dukungan setidaknya $32 juta dalam bentuk obligasi untuk mendanai perumahan lain untuk tunawisma.
Langganan:
Postingan (Atom)













